Sebenarnya, kisah ini sudah sering gue denger. Kisah hue dengar lagi saat gue sedang mempelajari Modul Study Islam di perkuliahan semester 1. Saat itu kami, kelompok Diskusi Kelompok (berapa ya? gue lupa). Kami membahas mengenai Agama Islam, apakah agama Islam ini Pantas disebut dengan agama Peace??? Apakah Agama islam identik dengan kekerasan????.
Saat itu, kami sedang berdiskusi dengan anggota kelompok dan didampingi oleh Fasil kami, yaitu Bu Ratna Pelawati, M.Biomed. Kami mendiskusikan hal tersebut diatas. Bener gak sih agama kita, agama islam ini identik dengan kekerasan. Soalnya belakangan ini banyak sekali oknum yang mengaku daro Ormas Islam inilah, itulah yang banyak melakukan hal yang tidak sepatutnya dilakukan oleh para oemeluk agama islam yang notabennya, yang diajarkan bahwa "Agama Islam Adalah Rahmatallil'alamin". Saat itu Pemicu kami adalah mengenai pembunuhan akibat kericuhan masalah gereja yang saat itu sedang heboh-hebohnya diberitakan di Media.
Saat sedang berdiskusi, kami menyimpulkan bahwa semua anggapan itu tidak benar, karena diberita tidak diceritakan dengan jelas kronologi dari kejadiannya, apakah benar itu adalah perbutan umat islam? atau juga apakah itu merupakan hal kesengajaan?
dan masih banyak faktor dan alasan lain yang membuat kami tidak menyetujuinya.
dan masih banyak faktor dan alasan lain yang membuat kami tidak menyetujuinya.
Nah sekarang yang ingin gue ceritakan adalah bagaimana sebenarnya perilaku yang seharusnya dilakukan oleh umat islam yang sebagaimana telah dicontohkan oleh Rosulullah SAW sebagai Uswatun Hasanah. Saat gue mendengar ceriota dan kisah ini, gue sempet merinding dan meneteskan air mata. Bukan berarto gue cengeng, tapi jujur gue sangat terharu dengan kisah ini.
Ceritanya adalah begini secara garis besarnya:
Saat itu, pada Zaman Nabi Muhammad SAW, ada seorang Yahudi yang sering duduk di ujung jalan. Ia merupakan seorang yahudi yang keras, tidak menyukai umat islam dan menghina Nabi, namun ia buta. Ia juga merupakan seorang yang bisa dikatakan kurang mampu dibidang ekonomi (Miskin). Pekerjaannya diujung jalan adalah mengemis .
Suatu hari, NAbi Muhammad SAW melewati jalan tersebut, beliau melihat yahudi sedang duduk. Nabi Miuhammad menyapanya dengan lemah lembut, dan dengan ramah. Karena keramahannya yahudi pun meresponnya. Nabi Muhammad juga setiap lewat jalan itu selalu memberikannya makanan. dan sering menyuapinya. Saat menyuapi yahudi tersebut, yahudi pun bercerita kepada Nabi, pada saat itu sang yahudi belum tahu bahwa yang menyuapinya adalah Nabi.
Sang yahudi berkata/ mengatakan bahwa dia sangat benci kepada Nabi, di menjelek-jelekkan Nabi. Begitu seterusnya. Setiap kali Nabi menghampiri dan menyuapi dengan lemah lembut kepada yahudi , sang yahudi selalu menceritakan hal tersebut. Namun Nabi Muhammad SAW tidak marah, malahan beliau tersenyum.
Suatu ketika saat Nabi Muhammad SAW sedang sakit, dan hendak wafat, beliau berpesan kepada Abu Bakar bahwa ia diamanati untuk merawat sang yahudi di ujung jalan. Lalu Nabi Muhammad SAW wafat.
Seperti yang diamanati oleh nabi kepadanya, Abu Bakar mengunjungi yahudi di ujung jalan. Beliaupun mengikuti apa yang sering dilakukan Nabi Muhammad SAW kepada sang Yahudi tersebut. Saat Abu Bakar menghampiri dan memberikan makanan kepada yahudi., sang yahudi seperti biasa menjelekkan Nabi Muhammad SAW. Namun, saat Abu bakar menyuapinya, iapun bertanya, kemana orang yang biasanya datang kemari dan menyuapi saya?" Tangan orang yang biasa menyuapi saya penuh dengan kelembutan, berbeda dengan tanganmu. Saat mendengar kata-kata itu Abu Bakarpun meneteskan air matanya. Lalu Abu Bakar berkata kepada sang yahudi, orang yang bertangan lembut, orang yang biasanya menyuapimu setiap hari dengan sabarnya adalah oramng yang setiap hari kau cela, kau jelek-jelekkan. dan Saat ini Orang tersebut telah tiada di dunia ini, Ia telah wafat. Mendengar hal tersebut air mata sang yahudi tak kuasa keluar dan iapun menangis.
Ya begitulah kira-kira kisahnya, gue sedikit lupa. Tapi memang jujur jika gue mengingat kisah tersebut gue pasti begitu terharu dan sampai bisa meneteskan air mata. Saat gue nulis inipun gue sempat hampir menangis.
So kita sebagai umat beliau, umat islam setidaknya meniru walaupun tidak 100% karena tidak mungkin kita bisa menyamai sang Habiballah.
Semoga bisa jadi renungan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar